Shih
lih foh chi, adalah kerajaan sriwijaya,Pada masa itu,Perniagaan antara shiI lih
foh chih dengan Cantown telah dimulakan Orang-Orang Dinasti Han, suku Zhuang, yang
terusir keluar Tembok China.Mereka
antara Tahun 900 ke 1200 M berniaga ke Shilih foh chih dengan memiliki
kebiasaan berpakaianj hitam-hitam. Kaum Urban itu berkembang ke Nanning, sebuah desa di China selatan.
Exodus
Orang Nanning menjalar ke teluk Benggala menuju Morro dan menetap di Tanah
Merah.( Pattani). Exodus yang sama juga berlayar ke sih lih foh chih dengan
membuat pemukiman baru dengan nama yang
sama, Tanah Merah di bagian Selatan
sungai Kampar.(Sumatera).
Sebelum
kembali ke Cantown, sambil menunggu musim angin untuk berlayar, mereka telah
masuk ke pedalaman Minangkabau. Mereka membawa barang dagangan berupa teksil
dan keperluan lain dengan memasukkan barang dagangannya ke dalam Guci-Guci
tembikar..Guci ini adalah gentong-air yang sebelumnya digunakan untuk air bersih sepanjang
perjalanan dari cantown ke Shih lih foh chi. Orang-Orang Hand yang disebut
Cheti, berniaga dari peisir timur Sumatera ke pedalaman membawa teksil dan
perlengkapan lainnya dari China, dan dari pedalaman sumatera membawa rempah dan
emas. Ketika itu, Puar Datar adalah pusat pencarian emas, yang dikenal dengan
nama Gunung Emas. Mbonang adalah pusat pemerintahan adatnya di bawah payung
Bunga Setangkai.
Guci
serupa dapat di temui berserakan di sepanjang jalur perniagaan di pedalaman
Sumatera sebagai peninggalan Han dinasti.Orang-orang Han yang berniaga itu, juga
beasimilasi dengan orang tempatan di sepanjang perjalanan pedalaman sumatera. Orang-orang
ini, disebut Orang Gucci. Pimpinan kelompok pedagang ini disebut Cheti (
Saudagar). Orang Gucci, dengan pakaian khas Hitam-hitam itu menjadi soko guru
dari tiga pilar warna Kebesaran di Minangkabau sampai saat ini.
Cheti
yang terkenal di Minangkabau, adalah Cheti (Bilang Pandai) adalah Ayah Datuk
Perpateh Nan sebatang. Seorang pencetus keselarasan adat Perpateh yang
legendaris.Cheti yang dimaksud, berpangkat sebagai seorang Patih ( setingkat
mentri Besar) pada masa kedaulatan Bungo Setangkai di Hulu Kampar yang berpusat
di Mbonang Koto Laweh. ( lihat Tambo Puar Datar).Pada ketika itu, bernama
sungai Naning.Sungai, dalam arti jalan orang-orang Gucci menuju mbonang dari
hulu sungai Kampar untuk naik ke darat dan pedalaman.
Dari
tepi sungai di Hulu Kampar ke pedalaman Minangkabau menggunakan Kuda Beban.Sejenis
alat angkut tradisional yang masih di dapati di beberapa bagian desa tertinggal
di Sumatera Barat sampai saat ini.Mereka dalam masa yang lama juga berasimilasi dengan
sisa-sisa wangsa Saylendra yang tersingkir keluar Sihlih foh chi karena
penggantian kekuasaan antara wangsa Syailendara dan wangsa Sanjaya di selatan.
Pemimpin Wangsa Syailendra terakhir yang diketahui bernama Chandra Banhu, Nama
lain raja Sri Indra Varman ke VI.
Sejarah
menyebutkan bahwa Raja Indravarman ke VI berekpansi ke Kedah (Semenanjung
Melaya) dan berusaha menaklukkan srilngka, Dalam perjalanan demikianlah, antara
tahun 1100-1200 M telah terjadi asimilasi antara Wangsa Syailendra dengan orang
tempatan di semenanjung Malaya, tepatnya pelabuhan Melaka .Mereka mendirikan
pemukiman yang sama bernama Nanning.
Di dalam
Sumber-sumber Lisan di Naning ( Melaka) dapat diketahui bahwa Wilayah adat
Perpateh di Nanning -Melaka di teruka oleh seorang penghulu dari Sumatera (
Tanah adat) Namanya Datuk Perpateh Pinang Sebatang ( Turunan Datok Perpateh Nan
sebatang) dari tanah Minangkabau. Datok Perpateh Pinang Sebatang dimaksud
adalah orang yang sama dengan pemegang Sako dari Datuk Perpateh Nan Sebatang –
Dengan jabatan adat sebagai Tiang Balai, di Balai Nan Panjang Mbonang Koto
laweh, Kabupatenh 50 kota.
Siapakah
Datok Perpateh Nan Sebatang ini ?...Untuk memahaminya perlu lebih dahulu di
semak bahwa; Ketika Chandra Banhu gagal menaklukkan srilangka ia kembali ke
teluk Benggala,ia menitipkan seorang anak bernama Indra Kepada Bikhsu di Kuil
Ayuthaya, Thailand. Anaknya ini
dititipkan kepada Biksu untuk di semedikan dan pada waktunya dikembalikan untuk
berkuasa ke Sumatra. Tetapi Chandra Banhu meninggal di Teluk Benggala dan
namanya diabadikan sebagai sebuah nama Kota, yakni Nakon Sritramarat dan
keluarga yang di tinggalkannya menetap dan berkembang di desa Roesoe, Pattani.
Sementara anak yang dititipkannya ke
Kuil Ayuthaya telah pergi ke Sumatera bersamaan kedatangan Raja Sri Aditya dalam
tahun 1223 M yang membina Chedi di Muara
Takus , ia telah sampai di Hulu Kampar dengan memakai gelar Maharaja Indra.
Gelar
Maharaja Indra, dikenal kemudian secara turun temurun di Mbonang Koto Laweh
sebagai Penghulu Empat Ninik yang tertua, di Hulu Kampar dengan Bukti Batu
Megalith ( Batu Persumpahan) di Kg Penago Mbonang
Yang
dimaksud Ninik Yang berempat di Hulu Kampar adalah;
1.
Mararajo Indo (Majo
Indo/ Maharaja Indra) di Koto Loweh
Limbanang. (Balai Nan Panjang)
2.
Siri Marajo ( Sri
Maharaja) di Kampun Kampai-Mungka ( Koto Tuo-Balai Nan tuo)
3.
Bandaharo ( Bendahara)
di Kampung Piliang-Pijombann Aur Duri-Mahat
4.
Rajo Di Balai ( Raja di
Balai) di Kampung Domo Muara Takus-Talago Undang –Balai Tanah Marabau
Ketika
itu, Naning di melaka disebut Ujung tanah – Alor Gajah.( Alur = tempat lalu
Gajah) secara harafiah dapat diartikan ketika itu disana adalah tanah padang
tempat laluan rombongan Gajah.
Dari
uraian ini dapat dijelaskan bahwa, dalam sistim Adat di Limbanang Koto Laweh
yang dahulu adalah pusat kekuasaan Bunga Setangkai, terdapat 24 buah
Mukim.Setiap Mukim (kampong) dipimpin
oleh seorang penghulu Mukim ( kampong).Setiap penghulu Kampong langsung menjadi
Tiang Balai, di Balai Nan Panjang Mbonang.Salah satu dari Tiang Balai itu,
adalah Datuk Perpateh Nan Sebatang, dari kaum ( Kampong Chaniago) Limbonang
Koto Laweh .
Dari 24
buah Mukim ( kampong) di Limbanang koto Laweh, terbentuk 4 Suku dengan 8
Nogori di dalamnya. Setiap Nogori di
pimpin Oleh seorang Penghulu Nogori. Nogori-nogori itu adalah;
1.
Kampung Mandahiling di
Pimpin Datuk Tamtamo
2.
Kampung Melayu-dipimpin
Datuk Rajo Johor
3.
Kampung Koto Anya-koto
Bunta-dipimpin Datuk Bandaro Gomuk
4.
Kampung Koto Anya-Koto
Panjang-Dipimpin Datuk Bacupak Omeh
5.
Kampung
Singkuang-Dipimpin Datuk Bandaro Panjang
6.
Kampung Chaniago-(
meliputi Simelenggang-Mungka dan tigo Batu) Dipimpin Datuk Rang Kayo Besar
7.
Kampung Pisang- Di
pimpin Datuk Rajo Marajo
8.
Kampung Paga
Cancang-Dipimpin Datuk Bandaro Lepai
BALAI
NAN PANJANG DILENGKAPI DENGAN STRUKTUR PANGLIMA ADAT SERAMAI 3 ORANG yaitu;
1.
Raja Lelo
2.
Kulang Kencong
3.
Mambang di awan
Ketiga
orang ini merupakan Panglima dan Hulu
Balang Adat di Balai Nan Panjang Mbonang,
sekaligus
merupakan Penghulu teritorial dalam
wilayah adat di Hulu Kampar dan berfungsi
sebagai
Juru
Adat di Hulu Kampar – Koto Laweh meliputi;
1.
Balai Batu
Paranginan-Koto Tengah-Bukit Barisan
2.
Balai Godang – Puar
Datar dan Koto Tinggi
3.
Ranah Luhak 50 Koto.
Termasuk wilayah adat Rajo Nan Balimo (
Rajo Mufakat) ;
·
Datuk Bandaro Hitam di
Guguk –Talago Ganting
·
Datuk Rajo Simagayuah di
Si Tujuh Bandar Dalam
·
Rajo di Luak Air Tabik
Rajo di Sitanang Muaro Lakin( Balai Jering)-( Balai Gobah) – (Balai Kt.Panjang)
·
Datuk Permata Alam Putih
di Koto Nan Gadang (Payakumbuh)
Di dalam
Tambo Minangkabau disebutkan bahwa Wilayah Adat Minangkabau meliputi antara
lain, bermula dari Sikilang Air Bangis sampai ke Pucuk Jambi Sembilan
Lurah...dst...sampai ke Patani Tapak Tuan. Dalam hal ini, Pattani ada salam
negara Thailan sekarang, disana masih ada 50 kepala Keluarga yang mengaku
bersal dari Tanah Minang sampai sekarang.Dan nhubungannya dengan Tapak Tuan
(Aceh) Mnyiratkan hubungan keturunan dengan Kerajaan Samudra Pasai dan Sultan
Alif Chalifatullah). Di Melaka Malaysia, tepatnya Naning dan Alor Gajah, ketika
itu disebut Ujung Tanah Minangkabau- justru masyarakat disana mengetahui betul
asal usul mereka berasal dari Hulu Kampar dengan di tandai nama sukunya bersal
dari Kampong Simelenggang, Mungkal dan Tigo Batu. Yang amat terang benderang adalah
Orang suku Chaniago yang berasal muasal dari Balai Nan Panjang koto Loweh di
bawah pimpinan Datuk Rangkayo Besar-Limbanang Koto loweh.
Seperti
umumnya adat kebiasaan Orang Chaniago, maka sistim musyawarah dan Mufakat yang
teradatkan adalah sistim berkampong. Setiap Kampong akan mewakilkan satu
penghulu Mukim dan di dalam sistim musyawarah di dalam Balai adat ia akan
berfungsi sebagai Tiang Balai. Adat kebiasaan ini juga dilaksanakan di Balai
Nan Panjang-Naning-Melaka, sama bentuk dan cara yang digunakan dengan yang
berlaku di tanah asalnya, Mbonang.
Dalam
Hal keturunan Datuk Perpateh Nan Sebatang di Naning Melaka, adalah Pemegang
sako Datuk Perpateh Sebatang dari Tiang Balai Mbonang Koto Laweh, dan di dalam
adat disebut Pemegang Sako Adat Gadang Manyimpang. Bahwa di bawah Panji Datuk
Perpateh Nan Sebatang, tumbuhlah Sako-Sako Andiko Datuk Patih yang beroleh
Mandat dari Balai Nan Panjang Mbonang-Koto Laweh-yang disebut sebagai Bulakan
bertalago-Talago Berhiliran. Maka Balai Nan Panjang di simpang empat – wilayah
Adat Perpateh di Melaka adalah Hiliran dari Balai Nan Panjang Mbonang Koto
Laweh, dibawah kaum Chaniago ( perpateh) dalam genggaman Datuk Rangkayo Besar
sebagai pemimpin kaum Chaniago di Hulu Kampar.Itulah sebabnya, Balai Adat di
Naning melaka disebut Juga Balai Nan Panjang dan secara simultan menjalankan
sistim Adat Yang sama dengan yang ada di Balai Nan Panjang Mbonang Koto Laweh,
yakni memakai sistim Musyawarah Mufakat dan Perlembagaan yang terdiri dari
Tiang Balai.Kaum migran yang menuju semenanjung Melaya ketika itu bermukim
sekitar muara sungai Linggi dengan konsep kehidupan yuang hampir sama dari
tempat asalnya. Bila di sumatera mencari emas, maka di melaka membuat
perlombongan Timah.
Sistim
musyawarah mufakat inilah yang menentukan diiftirafnya seorang
pemimpin/penghulu dalam satu wilayah adat.Di dalam sistim adat Perpateh ini
TIDAK DIKENAL SISTIM MONARKI ( SITIM ADAT BERAJA-RAJA).Dalam kisah Datuk
Perpateh Nan Sebatang tersirat hubungan ke tanah Semenanjung ini, yakni ketika
Perpateh Nan sebatang pergi Ke Rantau china ( Pattani?) dan kembalinya membawa
seorang pandai ukir yang terkenal dengan ragam ukirnya Aka Chino ( Wallahu
alam). Jika pun ini dianggap mempunyai nilai kebenarannya maka itu berkahu
sekitar tahun 1080..bila Sutan Balun Datuk Perpateh Nan Sebatang masih berumur
30-han tahun. Maknanya Indo Jolito berkahwin dengan Seri Maharaja sekitar tahun
1050. Logikanya ketika Sang sapurba gagal meminta upeti ke Sriwijaya tahun 1030
ia kembali ke Mongol, akan tetapi perahunya terdampar di Muara Kampar dan
diketahui tahun 1050 telah berkahwin dengan Indra Jelita (bundo Kanduang).
Seloanjutnya, menurutr Tambo Minangkabau ia mendirikan negeri Sungai Tarab 8
batu, sebagain perpanjangan kekuasaan Bungo Setangkai.Putranya bergelar
Dt.Ketumanggungan. Keika itu Perpateh Nan sebatang ( sutan Balun) belum Lahir
lagi.
Suami
kedua Indo Jolito adalah Cheti Bilang Pandai, ayah kepada Sutan Balun, setelah
besar sutan Balun diberi gelar Datuk Perpateh Nan sebatang. Dengan begitu, Nama
Datuk Perpateh Nan Sebatang, bukanlah nama Orang.Tetapi adalah Gelar Jabatan,
yang diterima Sutan Balun.
Dengan
begitu, perlu di kritisi, bila gelar
Penghulu Turun Gadang Manyimpang, yakni dari Mamak ke ke menakan, maka siapakah
Mamak kepada Sutan Balun? Siapa yang memberikanj gelar Datuk Perpateh Nan
sebatang kepada Sutan Balun? Bila Ibunya
adalah Indra Jelita ( Indra Yang Jelita ) adalah anak Raja Indra, maka sang
Mamak tentulah dari keluarga Raja Indra juga. Bila seorang Cheti ( saudagar )
boleh berkahwin dengan seorang anak Raja Indra ( Indra jolito) maka pastilah
Cheti dimaksud seorang saudagar di lingkungan Raja Indra juga.
Diisinilah
hubungan Maharaja Indra adalah keturunan
Indravarman yang mjembawa cheti dalam perjalanan kembali ke Sumatera . Maka
dapatlah di mengerti bahwa Sutan Balun alias Datuk Perpateh Nan
sebatang,,sesungguhnya adalah Keponakan Raja Sri Indravarman ke VI.Keponakan
kepada Maharaja Indra, (Datuk Maharaja Indra) Ninik tertua di Limbanang Koto
Laweh-Hulu Kampar. Oleh karena hal yang demikian, maka wajarlah Sako Datuk
Perpateh Nan sebatang kembali ke Mbonang Koto Laweh, menjadi salah satu Tiang
Balai dalam Balai Nan Panjang Mbonang-karena Balai Nan Panjang itu sendiri
wujud sweteloah adanya Persumpahan ( Musyawarah) anatara 4 orang Ninik yang
asal di Tanah Penago-Mbonang dan di tandai dengan Batu Megalith “ Batu
pasumpahan” dean masih dapat di lihat sampai sekarang. Batu pasumpahan,
merupakan tapak asal dari Balai Nan Panjang di Mbonang koto laweh. Tapak yang
asal ini terang didirikan Datuk Maharaja Indra sebagai Ninik yang
tertua di Hulu Kampar.
Tapak
Kedua Balai Nan Panjang, terdapat di Pariangan- Yang didirikian Indo Jolito (
Bundo Kanduang) akan tetapi dengan meninggalnya Sutan Balun –Datuk Perpatih Nan
Sebatang di Solok, sekitar abad ke XI, maka sako Adat Datuk Perpateh Nan Sebatang kembali ke pangkalnya di
Mbonang Koto Loweh dalam tahun 1223, Selanjutnya menjadi Tiang Balai Nan
Panjang di Mbonang.
Di
tempat asalnya, Ada 19 gelar sako andiko
Datuk Perpateh Nan sebatang yang di inventarisasikan sejak tahun 1223 sampai
sekarang. Karena Datuk Perpateh Nan sebatang bukan seorang Raja, maka Pemegang
sako Datuk Perpateh Nan sebatang, tidak memakai gelar Induknya, tetapi lebih banyak memakai gelar sako nya saja, yakni Datuk
Patih. Ke 19 orang Datuk Patih pemegang sako Datuk
Perpateh
Nan Sebatang dan yang di iftiraf di Balai Nan Panjang adalah;
Datuk Perpateh Suanggi-
kampong Chaniago
Datuk Perpateh – kampong
Sungai Napa
Datuk Perpateh Sabatang-
Kampong Lubuk Batang
Datuk Patih Kampong Koto
Anyia- Mbonang
Datuk Patih Kampong
Sipanjang
Datuk Patih koto Anya (
Dubalang adat Kulang Kencong)
Datuk Patih kampung Guci
Datuk Patih Baringek
kampong Guci
Datuk Patih Sinaro
–Kampong Guci
Datuk Patih Gopung-
Kampong Bodi
Datuk Patih Bandaro
Bundo kampong Singkhuang
Datuk Patih Bandaro
Panjang-Kampong Singkhuang
Datuk Patih Pangka
Bandaro kampong Chaniago
Datuk Patih Pangkomo
Kampung Mungkal
Datuk Patih Bandaro Rajo
Kampong Koto Anyia,
Datuk Patih Bandaro
Panjang Kampong Singkhuang
Datuk Patih Mangkhudum
–Kampong Singkhuang ( Punah. Atok Kepada Datuk Lubuk Sati)
Datuk Patih Besar –
Kampung Guci.( Datuk Kepada Pemegang gelar
Rangkayo Besar Bertuah)
Datuk Patih Pinang Sebatang ( Gucci)
– Kampong Ujung Tanah ( Sekarang
Naning-Melaka) Pemegang gelar Rangkayo Raja Merah.
Dapat
diterangkan bahwa 8 Nagari di dalam kawasan Hulu Kampar dengan Penghulu ke
empat suku sebagai pemimpin tetinggi dalam adat Perpateh, terdapat 4 Bagian
suku.. Delapan Nagari itu terbagi dalam Empat Sudut. Yaitu;
1.
Sudut Nan Ampek
2.
Sudut Nan Limo
3.
Sudut Nan Enam
4.
Sudut Nan Sembilan
Didalam
Sudut Nan Enam, terdapat nagari –nagari Simelenggang,Guguak,tigo Batu-
Piobang-Lubuk Batingkok-Mungkal dan Sungai Beringin
HUBUNGAN DENGAN PAGARUYUNG DAN MELAKA
Sejarah
menyebutkan bahwa pengiriman anak-anak Raja yang awal dari Pagaruyung ialah
tahun 1773M.Yaitu rombongan Raja Malewar. Raja Malewar adalah keturunan Raja
Gunung Sahilan. Bersama rombongan itu telah ikut datuk Megat ( Mogek) yang
diketahui kemudian memakai gelar Datuk Megat Melintang Alam.....Megat berasal
dari kaum Rajo Batuah di Pagaruyung yang sampai hari ini masih wujud dan gelar
itu terpelihara dengan baik.
Sebetulnya,
hubungan dengan Melaka telah terjalin jauh sebelum itu, yakni pada tahun1223.ketika
ekpansi Sri Aditya menuju chedi Muara Takus dan Sri Dharma Raja. Dua Ratus
Tahun kemuadian terjadi urbanisasi kedatangan Rombongan Datuk Khatib Tunggal –
Datuk Ri Bandang, Lolo Bayo dan Datok Mahkotta yang di usir oleh Tentera Siam
keluar Malaka tahun 1511. Keluarga Datok Mahkota terdampar di Sanro Bone
–Sulawesi selatan, dekat Kerajaan Goa Tallo.Di dalam Tambo Minangkabau dapat
diketahui beberapa datuk yang tak puas terhadap sistim adat di Minang telah
keluar dari tanah Minang dan berekpansi ke wilayah Indonesia Timur. Terkienal
dengan semboyan mereka, Sayang anak dilecuti, sayang kampung di tinggalkan.
Exodus
berikutnya terjadi ketika peristiwa Huru Hara tahun 1804, dan diteruskan oleh
kaum Urban tahun 1815 sisa kerusuhan di Balai Jariang dan Balai Gobah ( Kab 50
Kota) ekpansi berikutnya terjadi pada tahun 1779 yaitu pengiriman Raja Lenggang
dan terakhir diketahui Tahun 1862, mengikut ekspansi yang dilakukan oleh Tuanku
Bosa V,Sutan Jamin ke Kuala Pilah,Negeri Sembilan.Dalam Tahun 1855 rombongan
Sutan Abdul Jalil dan abd Rahman telah keluar dr Pagaruyung-melalui Lintau dan
Balai Gobah menuju Negeri sembilan.Tahun 1864 kaum urban dari Minangkabau ke
Semenanjung Malaya terhenti karena adanya peperangan perebutan kuasa di Bukit
Putus Negeri sembilan
KUNJUNGAN
LEMBAGA ADAT NANING KE TANAH ADAT.
Dalam 5
tahun terakhir terjadi kemelut adat di Naning melaka. Ada banyak pihak yang
dengan serta merta mengangkat diri menjadi datuk undang, sebagai penghulu
Naning. Pemerintah Kerajaan di Melaka, tidak dapat masuk campur menyelesaikan
kemelut ini, dengan alasan masalah adat harus diselesaikan secara adat pula.
Akan tetapi bagaimanapun, dalam undang-undang perlembagaan di Malaysia dengan
amat jelas di akui bahwa pemimpin adat di Naning, adalah seorang Penghulu,
bukan seorang Raja.
Semula
Wilayah Adat Perpateh Naning berada dalam genggaman Kerajaan Negeri Sembilan,
akan tetapi dalam anggapan justru wilayah Adat Perpateh Naning pula yang ikut
membentuk kerajaan negeri itu, karena budaya adatnya lebih awal dari wilayah
adat kerajaan itu sendiri. Pada ketika ini, wilayah ini berada dalam status
wilayah adat saja, dan bukan sebuah kekuasaan Monarki.Dianya ada dalam kerangka
kekuasaan negeri Melaka. Wilayah Adat Naning, di pimpin oleh seorang Penghulu.
Salah
Satu cara untuk Penyelesaian kemelut kepemimpinan adat di Naning melaka, adalah
dengan menurut pepatah Adat, yakni ; Sesat di Ujung jalan-surut kembali ke
pangkalnya, Keruh air di muara, jernihkan dari hulunya”. Setiap orang yang
mengaku sebagai waris anak adat di Naning –Melaka, mesti memahami sistim adat
Perpateh dari tanah Pangkalnya. Mengetahui seluk beluk sistim berkampong dan
waris pusakanya di tanah adat Minangkabau. Agar tidak salah untuk menganggap
diri sebagai seorang berketurunan seorang Raja. Karena dasarnya, adat Perpateh
ini, bukanlah adat pesaka seorang Raja. Tetapi ia adalah sistim musyawarah
mufakat yang di atur menurut aturan adat resam secara turun temurun dari
leluhurnya, yang disebut adat Perpatih dan bersumber dari sistim adat orang
Chaniago. dan di pimpin oleh seorang Penghulu .
Adat
perpateh yang di maksud adalah cara hidup berkampong. Bermusyawarah dan
bergotong royong.Oleh karena itu, hak hidup, marwah dan harga diri lebih
bernilai dengan semboyan, Duduk sama rendah-tegak sama tinggi , dimana penghulu
sebagai pemimpin di dahulukan selangkah dan di tinggikan seranting dari orang
yang dipimpinnya. Dari situ, merka membentuk perlembagaan adat yang disebut
adat Perpateh.
Saya
pribadi, telah berusaha membawa dan memperkenalkan apa adanya kepada beberapa
personal dari Malaysia dan Naning khususnya, tentang apa dan macam mana
perilaku adat di tanah pangkalnya. Agar mereka tidak tersilau dengan “rentak
dan glamour kehidupan monarki. Adat Perpateh, tidak akan lekang oleh panas,
tidak akan lapuk karena hujan, dia akan abadi berketerusan karena pada
hakekatnya Adat ini menghormati hak-hak privacy dalam kehidupan berkoloni.
Langkah
-langkah menuju penyelesaian seperti inilah yang kemudian di lanjutkan bersama
Lembaga Adat Naning-Melaka, yakni dengan membawa sebanyak mungkin anak adat dan
waris Perpateh dari Negara Persekutuan di Malaysia, ke tanah
Pangkalnya.Memperkenalkan sistim yang berlaku dengan melihat langsung pola
kehidupan masuyarakat adat di tanah asalnya. Sistim bergotong royong yang masih
pekat –yang ditunjukkan masyarakat adat di Balai gobah-Kabupaten 50 kota, pada
tanggal 29 Nofember 2015 , dan penerimaan Ahli lembaga adat Naning di rumah
mewah seorang mantan Diplomat Indonesia di Puri Tinzana, sekaligus Balai adat
Bunga setangkai di sampingnya, merupakan Bukti bahwa dalam sistim beradat adat
Perpateh tetap memegang teguh semboyan “ tegak sama tinggi-duduk sama rendah
dalam kehidupan adat istiadat yang di amalkan.
Walau
bagaimanapun adat perpateh tidaklah mewariskan sebuah mahligai kerajaan yang
penuh dengan pernak pernik kejayaan masa lalu. Tetapi dianya hanya mewariskan
sebentuk sistim yang kekal kepada anak cucunya yang mesti di jaga dan di
hayati. Dengan begitu, setiap anak waris adat perpateh dari manapun adanya,
tidaklah perlu membayangkan dan tidak akan pernah disuguhi segala bentuk sikap
yang ber pura-pura di tanah pangkalnya. Apalagi untukmembayangkan bahwa dirinya
sebagai berketurunan bangsawan raja....Karena di tanah pangkalnya, mereka akan
menyaksikan bentuk peninggalan yang ber sahaja- sederhana- dan sistim adat yang tiada berubah.
Perubahan
perilaku adat yang perlu dicermati adalah akibat modernisasi lingkungan
kehidupan Bandar-raya.Pola hidup dapat menyebabkan adat berubah makna. Oleh
karena sebab itulah, Lembaga Adat di negeri berkenaan , perlu menjaga adatnya
sendiri Yang Tak lapuk karena Hujan, tak lekang karena Panas.Biar Mati anak
asal jangan Mati adat. Salah satu cara untuk menjaga kelestarian adat ini,
ialah dengan melihat langsung perilaku adat di daerah asalnya.
Kita
berharap, barangkali tulisan ini dapat memberi masukan kepada mereka yang
bertikai, dan tentunya kita juga berharap tulisan ini juga boleh memberi
sembarang masukan bagi pihak berkuasa .
Limbonang, 29 Nofember 2015
WARIS –MONTI ADAT DATUK PATIH BESAR-
LIMBONANG KOTO LOWEH
Ttd
Anthonyswan Lubuk Pi.Art
Gelar.Datok Paduka Rangkayo Besar Bertuah
Email ;saranaenterprise@gmail.com.
Hp.082387644007
r

